Aku adalah
orang yang percaya pada takdir tuhan. Aku percaya bahwa semua sudah diatur
oleh-Nya. Aku juga percaya bahwa pertemuan kita sudah di tulis oleh-Nya juga.
Aku selalu beranggapan bahwa di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan, semua
peristiwa yang kita alami pasti memiliki tujuan dan alasan yang terkadang tanpa
kita sadari. Dan akhirnya aku teringat dengan seseorang, aku tidak pernah
berdoa dan meminta untuk bertemu dengan orang seperti dia, tapi nyatanya Tuhan
mempertemukan kami.
Saat itu adzan
magrib sudah berkumandang, seperti biasa kami segera bersiap-siap untuk
melaksakan sholat berjamaah. Tapi salah satu tutorku mengatakan bahwa kita
harus melaksakan sholat berjamaah dengan laki-laki di mushola, padahal biasanya
kita selalu shalat berjamaah di asrama. Saat itu aku tengah mengikuti pelatihan
keterampilan menulis di suatu kota selama satu bulan, disana aku bertemu dengan
orang-orang hebat yang sudah mahir menulis sedangkan aku sendiri masih amatir
dan sering asal jadi ketika menulis. Peserta pelatihan menulis berasal dari
berbagai daerah jadi sekarang rasanya aku sudah mempunyai teman dari sabang
sampai merauke hanya dengan mengikuti pelatihan menulis tanpa harus keliling
Indonesia untuk berkenalan dengan mereka.
Setelah semua
berkumpul di mushola, aku melihat dia sedang membenarkan kopiah warna putihnya,
setelah itu aku melihat tutor-tutor di depannya mempersilahkan dia untuk memindahkan
sejadahnya kedepan untuk menjadi imam. Ketika melihat kejadian itu aku hanya
tersenyum kecil sambil terheran-heran, apa orang seperti dia bisa menjadi imam?
Tapi ketika
aku mendengar dia mebaca alfatihah hatiku bergetar, rasanya aku ingin menangis
ketika dia membaca surah Al-Humajah. Sampai saat ini suara indahnya ketika
membaca ayat suci Al-Qur’an masih terngiang di telingaku, ternyata pandanganku
selama ini terhadpnya salah. Ternyata di balik sikapnya yang terlalu percaya
diri dan menyebalkan dia juga adalah sosok yang religius.
“Hai, kok
bengong..” Sapanya sambil mengagetkanku.
“Aku udah
kangen rumah, pengen pulang.”
“Sabarlah, dua
minggu lagikan kita pulang. Yuk kita main.”
“Kemana? gak mau
lah.”
“Ayolah...”
ajaknya dengan penuh harap.
Tapi
seberapapun besar usahanya untuk merayuku tetap saja aku menolak. Aku Hanya
menganggap bahwa itu candaan dia yang sangat konyol. Tapi semakin lama aku
memperhatikan sosoknya, aku jadi sedikit tertarik dengannya. Mungkin ini hanya rasa
penasaraku saja, jangan sampai cinta satu periode menghampiriku, lagi pula
sebentar lagi pelatihan menulis akan segera selesai dan kita akan kembali ke
kota masing-masing dan aku juga yakin setelah kita kembali menjalani aktivitas
seperti biasanya semua akan kembali normal dan mungkin dia tidak akan
mengingatku lagi.
Tapi nyatanya setelah beberapa bulan kegiatan
itu berakhir aku masih mengingatnya, aku masih mengingat suara indahnya ketika
membaca surah Al-Humajah, aku masih mengingat tertawanya dan aku masih ingat
semua tentangnya. Dan sekarang aku sadar bahwa pertemuan singkat kita sudah
menyisakan kenangan yang mendalam diingatanku, aku tidak yakin bahwa ini hanya
perasaan penasaran semata tapi aku juga tidak mau mengatakan bahwa ini adalah
gejala rasa suka terhadap orang yang mungkin tidak akan pernah aku temui lagi.
Jika suatu
saat kita bertemu lagi, aku yakin itu bukanlah suatu kebetulan. Mungkin Tuhan
mempunyai suatu rencana untuk kita berdua, aku hanya berdoa semoga kita bisa
bertemu lagi dalam situasi dan kondisi
yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar