Jumat, 19 Februari 2016

Short Story : INGAT.....



Aku adalah orang yang percaya pada takdir tuhan. Aku percaya bahwa semua sudah diatur oleh-Nya. Aku juga percaya bahwa pertemuan kita sudah di tulis oleh-Nya juga. Aku selalu beranggapan bahwa di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan, semua peristiwa yang kita alami pasti memiliki tujuan dan alasan yang terkadang tanpa kita sadari. Dan akhirnya aku teringat dengan seseorang, aku tidak pernah berdoa dan meminta untuk bertemu dengan orang seperti dia, tapi nyatanya Tuhan mempertemukan kami.
Saat itu adzan magrib sudah berkumandang, seperti biasa kami segera bersiap-siap untuk melaksakan sholat berjamaah. Tapi salah satu tutorku mengatakan bahwa kita harus melaksakan sholat berjamaah dengan laki-laki di mushola, padahal biasanya kita selalu shalat berjamaah di asrama. Saat itu aku tengah mengikuti pelatihan keterampilan menulis di suatu kota selama satu bulan, disana aku bertemu dengan orang-orang hebat yang sudah mahir menulis sedangkan aku sendiri masih amatir dan sering asal jadi ketika menulis. Peserta pelatihan menulis berasal dari berbagai daerah jadi sekarang rasanya aku sudah mempunyai teman dari sabang sampai merauke hanya dengan mengikuti pelatihan menulis tanpa harus keliling Indonesia untuk berkenalan dengan mereka.
Setelah semua berkumpul di mushola, aku melihat dia sedang membenarkan kopiah warna putihnya, setelah itu aku melihat tutor-tutor di depannya mempersilahkan dia untuk memindahkan sejadahnya kedepan untuk menjadi imam. Ketika melihat kejadian itu aku hanya tersenyum kecil sambil terheran-heran, apa orang seperti dia bisa menjadi imam?
Tapi ketika aku mendengar dia mebaca alfatihah hatiku bergetar, rasanya aku ingin menangis ketika dia membaca surah Al-Humajah. Sampai saat ini suara indahnya ketika membaca ayat suci Al-Qur’an masih terngiang di telingaku, ternyata pandanganku selama ini terhadpnya salah. Ternyata di balik sikapnya yang terlalu percaya diri dan menyebalkan dia juga adalah sosok yang religius.
“Hai, kok bengong..” Sapanya sambil mengagetkanku.
“Aku udah kangen rumah, pengen pulang.”
“Sabarlah, dua minggu lagikan kita pulang. Yuk kita main.”
“Kemana? gak mau lah.”
“Ayolah...” ajaknya dengan penuh harap.
                Tapi seberapapun besar usahanya untuk merayuku tetap saja aku menolak. Aku Hanya menganggap bahwa itu candaan dia yang sangat konyol. Tapi semakin lama aku memperhatikan sosoknya, aku jadi sedikit tertarik dengannya. Mungkin ini hanya rasa penasaraku saja, jangan sampai cinta satu periode menghampiriku, lagi pula sebentar lagi pelatihan menulis akan segera selesai dan kita akan kembali ke kota masing-masing dan aku juga yakin setelah kita kembali menjalani aktivitas seperti biasanya semua akan kembali normal dan mungkin dia tidak akan mengingatku lagi.
 Tapi nyatanya setelah beberapa bulan kegiatan itu berakhir aku masih mengingatnya, aku masih mengingat suara indahnya ketika membaca surah Al-Humajah, aku masih mengingat tertawanya dan aku masih ingat semua tentangnya. Dan sekarang aku sadar bahwa pertemuan singkat kita sudah menyisakan kenangan yang mendalam diingatanku, aku tidak yakin bahwa ini hanya perasaan penasaran semata tapi aku juga tidak mau mengatakan bahwa ini adalah gejala rasa suka terhadap orang yang mungkin tidak akan pernah aku temui lagi.
Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku yakin itu bukanlah suatu kebetulan. Mungkin Tuhan mempunyai suatu rencana untuk kita berdua, aku hanya berdoa semoga kita bisa bertemu lagi  dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar