Saya bingung ketika ditanya
mengenai pendidikan di Indonesia, saya bingung ketika di minta untuk
menjelaskan dan harus memulai darimana. Saya sendiri malu jika tidak bisa
menjawabnya, padahal saya adalah calon pendidik yang setiap hari selalu
berdiskusi bersama teman-teman seputar
masalah pendidikan. Dulu ketika di tanya cita-cita, saya selalu menjawab ingin
menjadi guru, hanya ingin menjadi seorang guru tanpa tahu esensi dari seorang
guru. Sekarang cita-cita menjadi seorang guru di depan mata, hanya tinggal
menyelasikan tiga semester lagi untuk menyandang gelar S.Pd.
Saya yakin dan percaya setiap
jurusan mempunyai kesulitan masing-masing, saya tidak senang jika ada orang
yang terlalu membanggakan jurusannya, mereka mengatakan kepada orang-orang
bahwa kuliah di jurusan ini sulit, kulihat di jurusan ini akan bekerja disini,
kuliah dijurusan ini masa depannya akan..... bla... bla... bla...
Hey kawan (saya hanya bisa berbicara dalam hati dan tersenyum) kamu tidak tahu bahwa kuliah di jurusan apa saja memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, kuliah di jurusan apa saja tidak menentukan pekerjaan mereka sesuai dengan jurusan yang mereka ambil setelah mereka lulus dan menyandang gelar sarjana, karena sarjana di Indonesia sudah menumpuk dan mengantri panjang sambil memegang kertas lamaran, bahkan saya juga tidak bisa menjanjikan kuliah di FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) akan menjadi seorang pendidik/guru.
Saat ini saya kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), setelah lulus nanti tentunya saya dan teman-teman akan mengajar anak-anak SD (Sekolah Dasar). Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa tidak mudah kuliah di jurusan ini, setiap hari kami di bayang-bayangi oleh tugas yang rasanya tidak pernah habis bahkan ada yang mengatakan kuliah tidak seindah di sintetron atau FTV yang penuh rekayasa karena pada kenyataannya tenaga dan pikiran kami terkuras habis disini.
Jurusan PGSD kuliahnya ngapain
aja sih? belajar apa? mata kuliahnya apa saja? seminggu kuliah sampai hari apa?
bla..... bla..... bla..... bla......
Setiap hari kami belajar sama seperti kalian, makalah, presentasi dan diskusi. Kami berdiskusi mengenai masalah pendidikan, disini kami di tuntut harus bisa membuat RPP dan media pembelajaran yang menarik untuk anak-anak tujuannya agar anak menjadi kreatif dan aktif di kelas. Setiap semester ada saja dosen yang memberi tugas observasi ke SD, di SD kami diminta untuk mengamati anak-anak SD sesuai dengan tugas yang diberikan oleh dosen namun setelah terjun ke SD kami bukan hanya sekedar mengamati tapi terkadang ada juga guru yang meminta kami untuk mengajar di kelasnya.
Sekarang saya dan teman-teman angkatan tahun 2013 sudah semester 5, ternyata kami sudah tingkat tua yaitu tingkat III. Jika di kampus banyak yang memanggil kami kakak, tapi entahlah mungkin jika dilihat kelakuan kami tidak diubahnya anak-anak SD yang selalu ribut di kelas baik itu ketika ada dosen ataupun tidak. Saya merasa jika di semester 5 berbeda, sekarang kami sudah mulai diarahkan untuk siap terjun langsung kelapangan mengajar anak SD, tahap-tahap membuat RPP, teori-teori pendidikan, strategi pembelajaran, model dan metode pembelajaran harus sudah di kuasai apa lagi kita harus kreatif dan inovatif dalam membuat media pembelajaran.
Di semester 5 hanya ada 8 mata kuliah tiga diantaranya memberikan tugas untuk simulasi mengajar anak SD, yang menjadi guru dan siswa adalah kami sendiri, setiap kelompok yang maju akan berperan menjadi guru sedangkan yang lainnya berperan menjadi anak SD. Ketika kelompok pertama simulasi mengajar kami antusias, karena kami senang bisa membuat keributan dikelas tanpa dimarahi dosen alahasil teman kami yang berperan menjadi guru yang merasa kerepotan dan capek karena harus teriak-teriak. Dari hari senin sampai rabu kami simulasi mengajar karena tiga mata kuliah yang memberi tugas untuk simulasi mengajar jadwal kuliahnya di hari senin, selasa dan rabu. Namun setelah beberapa pekan kami merasa bosan dan jenuh, saya dan teman-teman merasa capek harus berpura-pura menjadi anak SD apalagi jika teman-teman yang berperan menjadi guru menyampaikan materi pembelajarannya dengan biasa saja. Sejak saat itu saya mulai sadar, saya mulai sadar ketika memperhatikan teman-teman ketika simulasi, ketika kita berperan menjadi anak SD ada teman-teman yang antusias mengikuti pembelajaran dan mengikuti instruksi dari guru namun ada juga teman-teman yang diam saja di kursi sambil memegang handphone bahkan saya hafal orang-orangnya.
Ternyata itu bisa dikatan sebagai miniatur kelas, ketika kita mengajar di kelas tentunya ada peserta didik yang antusis mengikuti pembelajaran dan ada yang cuek, disinilah ujian untuk kita sebagai guru. Ketika kita melihat kejadian seperti ini kita tidak bisa diam, kita harus memutar otak dan membuat skenario pembelajaran yang menarik, sebagus apapun skenario yang kita buat tidak akan berhasil jika peserta didiknya tidak antusias dan mengikuti skenario yang sudah guru rancang. Pembelajaran akan menarik jika keduanya saling berhubungan, guru dan peserta didik saling berinteraksi satu sama lain sehingga menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan jangan lupa di setiap pembelajaran kita harus membuat kesan yang berbeda sehehingga membuat peserta didik setiap hari semakin antusias mengikuti pembelajaran.
Saya hanya berharap, semoga ilmu
yang kita dapatkan saat ini bisa di aplikasikan ketika sudah mengajar, karena
masa depan anak-anak penerus bangsa itu ada di tangan kita kawan... kita calon
pendidik.... kita calon akademisi.....
-Ilma Tanfiziyah-
Serang, 12/11/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar