Senin, 29 Februari 2016

Ketika Cinta Datang Terlambat....

Kenapa cinta datang terlambat ?
Ketika kamu sudah menjauh dan aku baru merasa kehilangan,
jujur saja aku merindukangan kedekatan kita dulu.
Dekat tanpa ada ikatan, dekat tanpa ada status tapi kita bisa tertawa lepas....

Kenapa cinta datang terlambat ?
Ketika aku sudah memilih orang lain dan bahagia bersamanya, kamu datang tiba-tiba sebagai teman baru hingga membuatku tertarik.

Kenapa cinta datang terlambat?
Ketika aku berusaha menjaga kesetiaanku padanya, kamu mengusikku dan berusaha membuka pintu yang selama ini sudah tertutup rapat.

Kenapa cinta datang terlambat?
Ketika kamu pergi, aku baru menyadari bahwa sebagian hatiku untukmu,
sebagian pikiranku membayangkanmu. Tapi kamu malah pergi menjauh dan membuatku kecewa....

Kemapa cinta datang terlambat?
Ketika ku tahu bagaimana rasanya sakit, aku menyesal pernah dekat dengan mu.
Aku memilih untuk melupakan mu, walaupun aku tidak pernah tahu alasan mu pergi...

Kenapa cinta datang terlambat?
Ketika aku memilih kembali padanya, tapi separuh hatiku masih berharap padamu....

Kamis, 25 Februari 2016

PACAR PEMAIN BOLA, ENAK?



Halo semuanya selamat pagi, siang, malam, sore, tergantung waktu kalian bacanya. Ah tumben nih basa-basi. Malam ini karena lagi mumet ngerjain tugas akhirnya nulis aja deh. Kali ini aku nulisnya pake bahasa yang santai, sekali-kali gak pake bahasa yang formal boleh kali ya.

Punya pacar pemain bola enak gak sih ?

Kita pacaran udah hampir 6 tahun, tepatnya bulan depan tanggal 21 maret kita bakal ngerayain hari jadian yang ke-6 tahun. Selama itu aku cuma deket dan komunikasi hanya dengan satu orang. Selama itu juga banyak banget peristiwa yang udah kita lewati, dari mulai ketawa bareng, nangis bareng, seneng bareng sampe susah bareng. Kalo menurut aku dia itu termasuk cowok yang baik, perhatian, pengertian, dewasa dan bertanggung jawab, dia juga termasuk cowo yang jarang banget marah.
Kadang banyak banget yang nanya dan minta rahasianya biar bisa pacaran awet. Sebenarnya gak ada rahasia apa-apa sih, aku juga gak punya resep pacaran awet buat kalian. Kita cuma saling percaya dan komunikasi harus tetap lancar apa lagi selama 6 tahun kita LDR, ketemunya cuma 3 minggu sekali atau 4 minggu sekali bahkan kita juga pernah 2 bulan gak ketemu. Mungkin sedikit susah pacaran LDR tapi sebenarnya kita lebih senang kayak gini, ngobrol lewat sms atau telepon atau kalo kangen banget video call dan sekalinya ketemu kita bisa memanfaatkan waktu yang cuma beberapa belas jam itu buat main berdua tanpa ada yang ganggu.
Dia itu orang yang baik dan bisa membuat aku nyaman, aku jadi ngerasa kalo dia itu sebagai salah satu pelengkap dari semua kekurangan yang aku miliki, begitupun sebaliknya. Satu hal yang paling aku gak suka adalah ketika dia main bola. Kadang aku suka ngerasa di duain sama bola, kita ketemu beberapa minggu sekali sedangkan dia main bola bisa seminggu 3 sekali. Bola selalu membuat aku cemburu dan ngambek tiba-tiba, kadang kalo aku lagi ngambek dia selalu berusaha nasehatin aku, dia bilang kalo bola itu cuma hobi sedangkan aku adalah masa depannya. Kalo dia udah ngomong kayak gitu meleleh deh hatiku, jadi ngambek manjanya udahan.
Sebenarnya walaupun aku gak suka sama bola dalam hati yang paling dalam aku mendukung penuh hobinya, aku rasa bola itu kegiatan yang positif buktinya karena dia pemain bola dia berkomitmen buat gak ngerokok selain itu dia juga cuma bergaul dan nongkrong sama anak-anak bola doang. Aku marah ketika dia main bola karena dia selalu memaksakan diri demi bola, kalo ada yang ngajak main bola atau futsal dia selalu bilang ‘ia’ padahal aku sendiri tau kalo dia baru pulang kerja, belum istirahat dan tentunya capek banget tapi kalo udah di ajak main bola rasa capeknya jadi hilang, belum lagi setelah main bola dia selalu ngeluh sakit kaki lah, engkel kenalah, urat kaki kencenglah atau keluhan yang lainnya. Dan itu membuatku tidak suka mendengarnya. Walapun aku tidak suka, walaupun aku selalu marah-marah gak jelas ketika dia selesai latihan aku selalu mendukungnnya ketika di lapangan, aku selalu berusaha menjadi orang pertama yang menjadi penyamangatnya dan orang pertama yang menantikan gol-gol cantiknya.

Sabtu, 20 Februari 2016

HAMBAR....



Saat ini aku sedang berusaha melupakan sesuatu, memang sulit melupakannya karena semua berawal dari proses dan berakhir kecewa. Kecewa terhadap sesuatu yang tidak pantas di kecewakan apalagi cemburu. Jika dia menolakmu tinggalkanlah, pergilah menjauh karena mungkin itu adalah sesuatu yang di harapkannya.
Setiap orang mempunyai harga diri yang selalu di jaga, begitupun dengan aku. Aku tidak mungkin mengejar dia yang sudah berjalan jauh tanpa menungguku, mungkin itu adalah pertanda bahwa kehadiranku tidak diinginkan.  Rasanya memang hambar... hambar..hambar.. dan hambar..
Tapi bersabarlah, ketika satu orang pergi meninggalkanmu percayalah bahwa sebenarnya masih ada orang lain yang berusaha meraih tanganmu di belakang. Sampai akhirnya aku menengok kebelakang  berharap ada orang lain yang mengerti untuk mengubah rasa hambar itu menjadi manis dan gurih. Aku tidak berharap dia yang sudah berjalan jauh datang kembali kepadaku karena sejak saat itu aku sudah tidak bisa mempercayainya lagi. Aku hanya percaya dengan orang yang sudah lama aku kenal, orang yang tidak pernah menyakitiku, orang yang tidak pernah meninggalkanku dan orang selalu berusaha memegang tanganku erat untuk melangkah bersama.
Dia orang yang pantas untuk aku lupakan dan orang yang tidak pantas aku harapkan, karena ketika aku mengharapkannya aku sudah melupakan seseorang yang dari dulu mengharapkanku. Aku berusaha pergi jauh menghilang dari bayangannya dan berharap tidak akan pernah memimpikannya lagi. Biarkan dia pergi jauh sendiri dan menemukan burung cantik lainnya.

Jumat, 19 Februari 2016

Cinta dan Gula Kopi




Seseorang mengatakan kepada saya “Cinta tanpa perasaan itu ibarat kopi tanpa gula”.
Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti dengan pribahasa yang dia berikan, namun karena dia menyuruh saya untuk memahaminya. Baiklah saya akan memberikan pandangan saya terhadap pribahasa tersebut.
Setiap orang memiliki rasa cinta, mereka berhak memberikan rasa tersebut untuk orang yang menurutnya layak karena sudah berhasil membuatnya tertarik. Cinta itu manis, sama seperti gula. Saking manisnya kadang cinta membuat kita lupa dengan segalanya, bahkan cinta membuat kita lupa bagimana rasanya sakit.
Tapi kita juga harus tahu kemana cinta itu pergi, kita harus memastikan bahwa dia pergi ketempat yang benar-benar tepat, karena jika salah cinta akan mengubah semuanya menjadi rasa sakit. Mungkin rasa sakit itu sudah biasa dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta istilah anak gaul sekarang  baperan atau galau katanya.
Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang wajar jika baper atau galau karena mereka sedang menunggu kepastian. Mereka selalu memperhatikan orang yang dicintainya untuk memastikan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Jika orang yang di cintainya memberikan lampu hijau maka dia akan bersiap-siap untuk menyatakan cinta namun ada juga yang tidak berani menyatakan perasaan yang sebenarnya karena mereka masih ragu dengan apa yang mereka rasakan, mereka masih bertanya-tanya dalam hati apakah cinta itu benar-benar pergi ketempat yang benar ?

Short Story : INGAT.....



Aku adalah orang yang percaya pada takdir tuhan. Aku percaya bahwa semua sudah diatur oleh-Nya. Aku juga percaya bahwa pertemuan kita sudah di tulis oleh-Nya juga. Aku selalu beranggapan bahwa di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan, semua peristiwa yang kita alami pasti memiliki tujuan dan alasan yang terkadang tanpa kita sadari. Dan akhirnya aku teringat dengan seseorang, aku tidak pernah berdoa dan meminta untuk bertemu dengan orang seperti dia, tapi nyatanya Tuhan mempertemukan kami.
Saat itu adzan magrib sudah berkumandang, seperti biasa kami segera bersiap-siap untuk melaksakan sholat berjamaah. Tapi salah satu tutorku mengatakan bahwa kita harus melaksakan sholat berjamaah dengan laki-laki di mushola, padahal biasanya kita selalu shalat berjamaah di asrama. Saat itu aku tengah mengikuti pelatihan keterampilan menulis di suatu kota selama satu bulan, disana aku bertemu dengan orang-orang hebat yang sudah mahir menulis sedangkan aku sendiri masih amatir dan sering asal jadi ketika menulis. Peserta pelatihan menulis berasal dari berbagai daerah jadi sekarang rasanya aku sudah mempunyai teman dari sabang sampai merauke hanya dengan mengikuti pelatihan menulis tanpa harus keliling Indonesia untuk berkenalan dengan mereka.
Setelah semua berkumpul di mushola, aku melihat dia sedang membenarkan kopiah warna putihnya, setelah itu aku melihat tutor-tutor di depannya mempersilahkan dia untuk memindahkan sejadahnya kedepan untuk menjadi imam. Ketika melihat kejadian itu aku hanya tersenyum kecil sambil terheran-heran, apa orang seperti dia bisa menjadi imam?
Tapi ketika aku mendengar dia mebaca alfatihah hatiku bergetar, rasanya aku ingin menangis ketika dia membaca surah Al-Humajah. Sampai saat ini suara indahnya ketika membaca ayat suci Al-Qur’an masih terngiang di telingaku, ternyata pandanganku selama ini terhadpnya salah. Ternyata di balik sikapnya yang terlalu percaya diri dan menyebalkan dia juga adalah sosok yang religius.
“Hai, kok bengong..” Sapanya sambil mengagetkanku.
“Aku udah kangen rumah, pengen pulang.”
“Sabarlah, dua minggu lagikan kita pulang. Yuk kita main.”
“Kemana? gak mau lah.”
“Ayolah...” ajaknya dengan penuh harap.
                Tapi seberapapun besar usahanya untuk merayuku tetap saja aku menolak. Aku Hanya menganggap bahwa itu candaan dia yang sangat konyol. Tapi semakin lama aku memperhatikan sosoknya, aku jadi sedikit tertarik dengannya. Mungkin ini hanya rasa penasaraku saja, jangan sampai cinta satu periode menghampiriku, lagi pula sebentar lagi pelatihan menulis akan segera selesai dan kita akan kembali ke kota masing-masing dan aku juga yakin setelah kita kembali menjalani aktivitas seperti biasanya semua akan kembali normal dan mungkin dia tidak akan mengingatku lagi.
 Tapi nyatanya setelah beberapa bulan kegiatan itu berakhir aku masih mengingatnya, aku masih mengingat suara indahnya ketika membaca surah Al-Humajah, aku masih mengingat tertawanya dan aku masih ingat semua tentangnya. Dan sekarang aku sadar bahwa pertemuan singkat kita sudah menyisakan kenangan yang mendalam diingatanku, aku tidak yakin bahwa ini hanya perasaan penasaran semata tapi aku juga tidak mau mengatakan bahwa ini adalah gejala rasa suka terhadap orang yang mungkin tidak akan pernah aku temui lagi.
Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku yakin itu bukanlah suatu kebetulan. Mungkin Tuhan mempunyai suatu rencana untuk kita berdua, aku hanya berdoa semoga kita bisa bertemu lagi  dalam situasi dan kondisi yang berbeda.